Sabtu, 30 Jun 2012

09 di Bukit jambul - Google Blog Search


URL Sumber Asal :-

09 di Bukit jambul - Google Blog Search


BLOG PENANG: 09 <b>di Bukit jambul</b> - Google Blog Search

Posted: 02 Jun 2012 11:08 AM PDT

URL Sumber Asal :-

PROGRAM JERAYAWARA BAHASA <b>DI</b> SMK <b>BUKIT JAMBUL</b>, PULAU

Posted: 01 Jun 2012 07:47 PM PDT


Masa: 8.30 pagi - 1.00 tengah hari
Tempat: Dewan SMK Bukit Jambul, Pulau Pinang
Terima kasih yang tidak terhingga saya ucapkan kepada sahabat saya Cikgu Wan Sajiri Wan Hassan (GPK 1), Puan Atikah Mohd. Ariffin (GKMP Bahasa), Datin Noraini Ahmad (Ketua Panitia Bahasa Melayu), guru-guru Bahasa Melayu termasuk guru jemputan dari sekolah berdekatan, serta para pelajar yang terlibat kerana memberi ruang dan peluang untuk saya mengendalikan Program Jerayawara Bahasa di SMK Bukit Jambul, Pulau Pinang. Semoga kalian mendapat manfaat daripada tip dan taklimat yang disampaikan. 

BLOG PENANG: 09 <b>di Bukit jambul</b> - Google Blog Search

Posted: 24 Jun 2012 11:20 AM PDT

URL Sumber Asal :-

alien (tak) mampir <b>di bukit jambul</b> « arifkoes

Posted: 22 Jun 2012 01:54 AM PDT

Ini kisah tentang Zarah. Putri ilmuwan 'atheis' bernama Firas yang terobesi pada jamur, bukit terlarang di kampungnya, dan 'dunia lain'. Saat  firas mulai ditampik keluarga dan lingkungan, lalu hilang tanpa bekas, adalah tugas Zarah untuk mencari jawaban dan meneruskan obsesi ayahnya. Lalu petualangan Zarah pun dimulai. Ke mana-mana, ketemu siapa saja, menjadi apa saja. Dituntun takdir,didukung semesta. Berlembar-lembar, beratus-ratus halaman cerita.

Baiklah. Bagi yang belum tahu, Partikel adalah novel Dewi Lestari dalam seri Supernova  (memang siapa yang tidak tahu? Bukankah selebritis adalah langkah taktis menjadi penulis, menjadi apa saja, dan apa yang dihasilkannya  selalu punya kans lebih tinggi untuk disimak, untuk laris?:).

Bagi yang sudah mengikuti seri –seri sebelumnya, cerita yang selalu diniatkan bertabur kelok liku misteri ini sesungguhnya tak lagi menyimpan banyak misteri. Seperti sudah bisa diduga, Zarah, layaknya tokoh-tokoh Dee lain, adalah nabi dari Dee Yang Maha Kuasa dalam semesta ciptaannya.

Mereka lahir dan diutus untuk mengikuti jalan spiritualitas, mencari pencerahan dan kebenaran, atau apapun bahasanya untuk mewakili apa itu yang (dianggap Dee, lalu juga pembaca setianya) hakiki. Sesuatu yang selalu (sok) dipertanyakan Dee sendiri.

Berada dalam dimensi Dee artinya bisa menerima kemungkinan setidakmungkin apapun, sekalipun itu aneh dan ganjil. Jadi yah, mau ada kebetulan apa pun kek, mau ada misteri segala rupa kek, ya, sah-sah saja. Meskipun saya yakin jawaban (juga ketiadaan jawaban) segala misteri itu sudah disiapkan dan kelak bisa dijelaskan.  Tentu saja di seri-seri buku selanjutnya. Dan apapun itu pasti bisa dijelaskan Dee dengan "ilmiah",  minimal dengan dukungan teori mestakung yang superbrilian dan multiguna itu.

Dengan begitu, gairah untuk bermisteri dan bertanya-tanya akan hakikat semesta di seri-seri Supernova sudah serimbun jamur di Bukit Jambul saat musim penghujan. Repetitif. Saat saya membawa asumsi bahwa novel ini berdiri sendiri—dan bukan cerita bersambung– cerita pun semakin kedodoran.

Apalagi dengan pernik-pernik kisah yang sungguh klise. Alien ala film Hollywood, ritual shaman, crop circle di Inggris?  Cerita stensilan tentang alien berbentuk babi ngepet, atau teknologi santet untuk mengirim ransum laskar mataram agar tak kelaparan saat menyerang batavia, atau crop circle di Piyungan, bukannya lebih asyik? Ayolah, ini dunia Dee yang semua serba mungkin, bukan?

crop circle Piyungan Jogja (dok. Muh Thoha)

Walhasil, saat si tokoh utama tersedot ke dunia lain, saya justru terhisap ke alam bosan dan dimensi kantuk.  Zat enteogen cerita ini agaknya kurang kuat untuk mampu membius saya.

Dee memang piawai menyabdakan segala yang misteri dan asing itu menjadi seru dan asyik. Penceritaan Dee bagaikan bisa mendatangkan pesawat UFO atau gerbang dimensi lain di bukit jambul atau di belakang rumah kita.  Tapi, ya sebatas itu, segala misteri dan keasingan dalam cerita itu cuma mampir. Tak pernah mendekat, menarik hati kita, mengoperasi otak kita, menanamkan iman bahwa mereka benar-benar ada, bahkan mengajak kita  ke dunianya.

Saya justru lebih tertarik pada bagian-bagian awal kisah drama keluarga Zarah dan Firas. Relasi bapak-anak memang  cerita usang yang telah dituangkan dalam entah berapa jenis cerita.  Kisah yang nyaris intim dan personal seperti "cerpen" Madre dan beberapa petilan kisah Filosofi Kopi. Cerita-cerita yang tak membutuhkan sosok nabi.

Saya dulu menganggap seri pertama Supernova, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh itu yang paling keren. Seri-seri selanjutnya makin menurun dan tidak menggigit. Anggapan itu mungkin karena saya membaca novel itu waktu SMA, waktu buku sejenis yang saya baca adalah karya Marthen Kanginan. Entah apa kesan saya jika saya membacanya lagi kini.

dee yang maha jelita

dee yang maha jelita

Sebaiknya, selain berpikir untuk mengganti definisi seri novelnya menjadi cerber, atau mulai mencari artis-artis untuk film Supernova, saya usul sebaiknya Dee bisa mulai berpikir untuk membuat agama baru saja kalau seri supernova terus-terusan seperti ini.  ;p

0 ulasan:

Catat Ulasan

 

BLOG PENANG

Copyright 2010 All Rights Reserved